Jumat, 17 Mei 2019

ALIRAN RASA #Gamelevel2 : Fitrah Belajar

Belajar, bertumbuh, mendewasa. Mungkin memang begitu fitrah kehidupan. Pun dengan yang terjadi dalam game level 2 ini. Pada tantangan bersama anak-anak, rasa menganggap itu hal mudah bagi anak sering kali muncul. Bahkan pernyataan sekelebat "kok gitu aja ga bisa" bisa saja ingin diutarakan. Tapi, dari sini saya sadar bahwa kita semua masih sama seperti anak-anak. Pembelajar di usianya. Bahkan kadang lupa karena kita melabeli diri sebagai sang dewasa, kita lupa betapa tak perlu kita takut gagal selama kita mencoba. Kita lupa bahwa tak bisa kita menyamakan kemampuan satu individu dengan yang lain. Yang bisa kita lakukan membersamai dan mendukung tahap belajarnya.

Memilih tantangan terhadap diri sendiri perihal kemandirian sedikit sulit ditentukan. Rasa jumawa sudah pernah mandiri karena pernah berkembara di luar kota mungkin salah satu faktornya. Padahal setelah ditelisik sekecil skill beres-beres saja masih jauh tertinggal dengan ibunda di rumah yang jam terbangnya sudah barang tentu tak perlu lagi dihitung ulang. Itu baru satu hal. Belum hal anak, hal masak, keuangan, dan hal hal manajemen lainnya.

Tantangan ini membuka mata terhadap informasi dan trik-trik skill yang diasah, tinggal terus dilakukan dan disepakati bersama dengan partner rumah. Tantangan ini menjadi jadi ketika gawai ikut menjadi hal menantang yang harus ditaklukan. Subhanallah. Segala puji bagi Allah yang senantiasa memberi jalan keluar atas segala tantangan ini. Terima kasih IIP, senantiasa menginspirasi. Salam metamorfosa. Mari berubah, berkarya, dan menginspirasi bersama.



#aliranrasa
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

Sabtu, 11 Mei 2019

TANTANGAN 10 HARI #2: Melatih Kemandirian Anak Hari ke-10: Lupa-Lupa Ingat


Yeay, setelah marathon sembilan hari finnaly kita berada di checkpoint aman. Yups, hari kesepuluh atau hari ketiga skill kedua. Masih dengan obrolan yang sama perihal melatih kemandirian keponakan saya dalam mengambil minum. Untuk membiarkan ia pergi ke dapur dan mengambil sendiri belum saya biarkan mengingat ia langsung saya ajari menggunakan gelas kaca dan jarak lantai dengan meja dapur cukup tinggi. Khawatir rentan jatuh sehingga saya masih akan terus mendampinginya sampai ia benar-benar dirasa cukup kuat memegang gelas dan teko bersamaan saat menuangkan air.

Hari itu seperti hari sebelumnya percakapan berjalan lancar. Melatihnya pun tanpa drama sebagaimana biasa. Hanya masih memerlukan penanaman pada dirinya bahwa kini ia sedang menuju pada status bisa ambil minum sendiri sehingga kemudian tak perlu diajak dulu baru ke dapur mengambil minum. Ia pun hari ini masih dibantu mengambil gelas, juga menuangkan air dalam teko yang untuknya masih berukuran besar. Aku jadi tak sabar melatih kemandirian untuk si cantik nanti ketika tiba saat nya ia dilatih untuk mandiri. Dan kebiasaan ini akan terus dijalankan hingga minimal bulan ini melatih 4 skill kemandirian baik untuk diri sendiri maupun anak. Semoga energi positif ini ikut menular ke orang-orang terkhusus anggota keluarga di rumah.

#harike10
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

TANTANGAN 10 HARI #2: Melatih Kemandirian Anak Hari ke-9: Kali Kedua

Walaupun ekspresinya kemarin kegirangan karena merasa ia memiliki kemampuan paling mutakhir yakni menuangkan air ke dalam gelas, sayangnya karena baru satu kali percobaan ia lupa kalo ia sedang belajar hal tersebut. Terlebih adalah hal lumrah jika cucu dan nenek sedang rukun, apapun dijabanin. Untungnya, aku kembali beraksi dengan jurus komunikasi produktif pada sang nenek. Menjelaskan bahwa ia sedang dalam masa pelatihan (gaya banget ini bahasa) mandiri mengambil air minum. Sehingga niatan nenek tercinta untuk mengambilkan air untuk cucu kesayangannya diurungkan. Giliran saya kembali menuntunnya untuk mengambil air minum sendiri.


S: Kaka haus ya? Kemarin kan udah tante ajarin bawa air minum sendiri, kaka masih ingat?
K: hmm.. (berlagak berpikir dengan gayanya -__-)
S: Yuk, ambil minum!
K: Ikut ke dapur
S: Kemarin gimana ya kata tante?
    Tangan kiri pegang dengan kuat gelasnya.
    Tangan kanan tuangkan air. (sambil saya bantu, karena isi air masih agak penuh jadinya lumayan berat untuk nya)
    Setelah itu duduk, baca bismillah kemudian minum dalam tiga tegukan (bernada lagu nussa dan rara hihi).

Hari itu kedua kalinya ia mengambil minum sendiri untuk kemudian setiap kali ia kesini akan saya usahakan terus seperti itu.



#harike9
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

TANTANGAN 10 HARI #2: Melatih Kemandirian Anak Hari ke-8: Kolaborasi Skill


Hari ini berjalan indah seperti biasanya. Suara riang tawa keponakanku yang sedang masa-masanya penuh imajinasi bersahutan dengan suara cooing si cantik, anakku. Karena keponakanku ini sedang belajar berpuasa juga, mungkin kegiatannya berlari bermain kesana kemari menguras cadangan cairannya. Ia pun hanya berpuasa setengah hari lalu kemudian berbuka. Masyaa Allah, suatu pencapaian yang cukup luar biasa bagi anak dengan usia yang bahkan belum genap 5 tahun. Namun, kemandiriannya memang masih perlu banyak dilatih untuk ditanamkan. Namanya juga anak-anak yang masih dalam fase egosentris. Positifnya, ponakanku ini cepat tanggap dan mudah diarahkan. Masyaa Allah.

Kebetulan kala itu ia menemaniku bermain dengan si kecil. Ia bilang haus ingin minum, lalu tak saya tunda lagi. Saya gunakan kesempatan ini untuk menuntunnya belajar mengambil minum sendiri. Saya juga gunakan jurus komunikasi produktif dengan mengganti dengan kata “bisa”, intonasi yang ramah, dan KISS (Keep it short and simple). Kurang lebih begini dialog kami.

(K untuk keponakan, S untuk saya.)

K: Tante, kaka haus.
S: (dengan intonasi lembut dan ramah) Kaka haus? Mau minum ya? Kaka bisa ambil sendiri?
K: hmm.. tidak bisa (jawabnya tegas)
S: Kaka pasti bisa ambil minum sendiri. Kaka hanya perlu belajar dan terus berlatih. Mau tante ajarin? (masih dengan nada ramah)
K: Hmm.. (menggangguk tanda setuju)
S: Sini kaka nya naik dulu ke atas kursi.
    Kemudian, kaka pegang gelasnya dengan tangan kiri ya. Hati-hati, pegang dengan kuat.
K: (mengangguk memberi respon positif)
S: sekarang tangan kanan kaka pegang tekonya. Terus tuang ke dalam gelas pelan-pelan.
K: (mengikuti sambil dibantu karena masih berat untuk menuangkan air dari teko sendiri)
S: Nah, kaka bisa kan?
K: (tersenyum senang)
S: Sekarang kaka duduk.
    Baca bismillah dan minum dalam tiga tegukan ya.

Lalu mereka kembali bermain dengan gembira. To be continued.




#harike8
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

TANTANGAN 10 HARI #2: Melatih Kemandirian Hari ke-7: Bertahanlah!

Sambil menunggu hasil coba-coba menghempaskan jamur lemari, mari kita tengok kondisi lemari. Hiks.. karena ritme mood beberapa hari ini sedang swing sana swing sini ternyata lemari juga terkena imbasnya. Saya kembali pada kebiasaan menunda membereskan pakaian yang telah dilipat dengan rapi dan teronggok di suatu sudut kursi. Tapi, masih bisa dikendalikan karena langsung diperbaiki dengan membereskan kembali susunan pakaian dalam rak lemari.


Tak terasa sudah memasuki hari ketujuh dalam melatih kemandirian. Saatnya memasuki pekan berikutnya dengan skill yang baru untuk dilatih. Tanpa berhenti melanjutkan skill perlemarian kemarin tentunya. Kira-kira mulai dari apa dulu ya?


Hmm.. jika beberapa hari yang lalu saya berusaha melatih kemandirian diri sendiri, mungkin alangkah lebih baik jika kesempatan ini digunakan untuk melatih kemandirian keponakan yang memang sering menghabiskan waktu di rumah. Sekaligus mengasah kembali kemampuan komunikasi produktif. Oke, mari kita mulai.



#harike7
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

TANTANGAN 10 HARI #2 Melatih Kemandirian Hari ke-6: Tips Lemari Anti Jamur


Memasuki hari ke-6 pemandangan lemari bajuku masih aman terkendali. Namun, ada sedikit godaan dari sudut pakaian si kecil yakni ada beberapa pakaian saya yang tercampur disimpan disana. Hal ini karena saya tidak segera menempatkan pakaian yang telah dilipat pada tempatnya. Pada akhirnya, anggota keluarga yang lain lah yang melakukannya. Lanjutlah dengan membenahinya sebelum berakhir lebih berantakan. Hihi..


Tantangan lain yang muncul adalah, setelah kemarin berhasil memperbaiki spot gantungan baju ternyata ada jamur di lemari. Hiks.. nah, mari kita cari solusinya. Dari artikel bacaterus.com yang saya baca, ada beberapa alternatif cara untuk mencegah timbulnya jamur dalam lemari seperti berikut.

  1. Meletakkan kamper/kapur barus di dalam lemari. Kamper yang digunakan sebaiknya bukan dalam bentuk tablet namun dalam bentuk yang digantung. Kamper bukan hanya sekedar untuk mengharumkan bagian dalam lemari, tapi bisa juga untuk mencegah pertumbuhan jamur pada serat-serat kayu. Bersihkan dulu jamur di lemari, lalu letakkan kamper baru di dalam lemari.
  2. Menggunakan alcohol. Setelah jamur di lemari dibersihkan dengan kain lap kering, lanjutkan dengan mengoleskan alkohol ke seluruh sisi lemari yang berjamur. Alkohol dapat membasmi jamur dan mencegah jamur kembali bertumbuh pada lemari kayu.
  3. Melapisi lemari dengan pernis atau melamin. Saat lemari Anda dihinggapi oleh jamur, bersihkan jamurnya dengan kain kering, lalu segera lapisi setiap sisi lemari kayu dengan pernis atau melamin. Cara ini berguna untuk mematikan jamur dan mencegahnya datang kembali. Asalkan Anda merawat lemari kayu dengan baik, tentu saja lemari tersebut akan terhindar dari jamur.
  4. Memberikan alas dalam lemari baik menggunakan Koran, plastic bening, ataupun alas lainnya. Alas di dalam lemari ini perlu diganti setiap beberapa waktu untuk memastikan bahwa bagian dalam lemari tetap bersih agar terhindar dari jamur.
  5. Menggunakan Penyerap Kelembapan atau dehumidifier.
  6. Memasang lampu dekat lemari atau menggunakan lemari dengan lampu di dalam lemari yang akan otomatis menyala ketika kita membuka lemari (contoh seperti lemari-lemari di hotel)
  7. Mengoleskan pembersih kayu
  8. Menggosok dengan campuran jeruk nipis dan garam. Cara ini dekat dengan kita yang kesehariannya tak lepas dari dapur. Selain itu, bahan ini cenderung lebih zerowaste juga.
  9. Mengoleskan campuran cuka dengan air, namun hati-hati mungkin cara ini dapat memudarkan lapisan warna lemari.
  10. Membersihkan lemari secara berkala.

Dari kesepuluh cara tersebut, yang akan saya coba lakukan adalah yang menurut hemat saya lebih ramah lingkungan dan kantong hehe.. yups, Menggunakan bahan yang mudah kita temukan sehari hari. Akan saya mulai dengan mencoba menggunakan kolaborasi antara menggunakan alas lemari, kamper, menggosokkan campuran jeruk nipis. Alternatif lainnya yang penasaran ingin saya coba adalah dengan campuran cuka. Kalo kamu mau coba yang mana? Please kindly share jika ini bermanfaat ya :D





#harike6
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

TANTANGAN 10 HARI #2: Hari ke-5 Melatih Kemandirian: Perbaikan


Nah, setelah kemarin mendapati kondisi lemari bagian bar gantungan berantakan dan dapat tips dari Brightside tentang 7 kesalahan menyimpan baju, sambil beberes yang ternyata menjadi penyebabnya adalah dua hal berikut.

  1. Menggantung gaun panjang digantungan baju
  2. Salah meletakkan pakaian (seharusnya : Knitwear dan wol diletakkan dalam rak baju, blus/kemeja/ gaun/baju berbahan halus diletakkan pada gantungan) 

Dan ketika saya aplikasikan tips ini ke lemari saya, VOILA seketika tampilannya berubah 180 derajat. Kok tak terpikir ya sebelumnya? Padahal solusinya cukup sederhana dan mudah. Mungkin kita terpaku pada kebiasaan dan penyimpanan baju di toko-toko pada umumnya ya.
Hal yang saya lakukan untuk membenahi hal tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Melipat kembali gaun panjang sebelum digantung membuat bagian bawah gaun tidak tertekuk sehingga tidak perlu khawatir bagian tersebut kusut dan perlu disetrika kembali. Sayangnya HP saya sedang dirawat di NICU jadi belum bisa mendokumentasikan contohnya dalam bentuk foto. Tapi tak perlu khawatir pada artikel sebelumnya bisa dilihat contoh gambar yang bersumber dari Brightside.
  2. Memilah berdasarkan bahan. Beberapa gamis yang saya miliki berbahan jersey. Seperti yang diketahui para mamak kalo bahan jersey memang nyaman, adem, dan bahannya jatuh ketika dipakai. Namun ketika bahan ini digantung maka masa elastisitasnya juga akan berkurang sehingga cenderung melar. Oleh karena itu baju dengan bahan ini sebaiknya dilipat dan disimpan di bagian rak lemari. Sedangkan untuk baju berbahan halus seperti satin saya lipat kemudian gantung, seperti yang saya terapkan untuk baju gamis yang digantung.
Kalo punya bunda yang bagaimana? 

#harike5
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional


TANTANGAN 10 HARI #2: Melatih Kemandirian : Tips Menyimpan Baju


Yeay, memasuki hari keempat tampilan almari saya dan si kecil masih dapat dikatakan rapi. Masya Allah senangnya ibu memang sederhana ya.. melihat pencapaian seperti itu saja sudah bahagia luar biasa. Hihi.. namun, itu ternyata hanya sementara. Jeng.. jeng.. saat saya melirik ke bagian lemari tempat menggantung pakaian. Hmm.. karena gamis dan dress ku yang panjang maka bagian bawahnya kalo kata orang sunda mah “nguyupuk” (bukan kerupuk ya guys). Nah, hal ini menjadi tantangan selanjutnya karena serapi apapun pasca di setrika kalau digantung bagian bawahnya malah menjadi kusut. Hmm.. gimana ya caranya biar tetap digantung namun tetap dalam keadaan rapi pas mau dipakai?


Setelah membaca artikel mengenai tips menyimpan baju dengan baik dari Bright Side, ternyata ada beberapa hal yang harus dihindari untuk menjaga keawetan pakaian dari segi penyimpanan sekaligus solusi untuk gaun-gaun yang panjang ini.

  • Menggantung beberapa pakaian dalam satu gantungan. Hal ini sebaiknya dihindari karena dengan menggantung beberapa pakaian dalam satu gantungan bisa memberikan tekanan berlebih pada gantungan baju sehingga overweight dan baju juga ikut tertekan sehingga tak bisa bebas bernafas seratnya.
  • Menggantung pakaian rajut/sweater dan sebagainya dapat meninggalkan bekas gantungan dan kualitas baju rajut menjadi menurun serta dapat mengubah bentuk baju tersebut.
  • Menggantung gaun panjang digantungan baju. Hal ini yang terjadi pada gamis-gamis saya. Hihi.. menggantung baju/gaun yang panjang dapat membuat bagian bawah baju terlipat sehingga butuh effort lagi buat menyetrika bagian bawah yang kusut.
  • Menggantung celana. Menggantung celana sebenarnya sah saja (asal jangan menggantungkan status hubungan kita.. wkwk apasih) hanya saja cara yang tepat adalah dengan menggantung celan dalam keadaan terbalik dari bawah ke atas. Saya sendiri lebih senang melipat celana daripada menggantungnya.
  • Melipat Bra Menjadi setengah. Ini banget kebiasaan saya karena sebelumnya belum tahu melipat bra yang benar itu seperti apa sebenarnya.
  • Salah meletakkan pakaian. Sebelumnya saya pikir bahan apapun mau dilipat atau digantung tidak masalah. Namun ternyata bahan baju rajut/knitwear dan wol lebih baik disimpan dalam rak baju, sedangkan blouse/kemeja/gaun dan baju berbahan halus disimpan dengan cara diletakkan pada gantungan
  • Menggantung baju tanpa dikancing. Selain membuat baju mudah jatuh dari gantungan, menggantung baju tanpa dikancing dapat mengubah bentuk baju

Wah, Alhamdulillah jadi nambah pengetahuan tentang hal-hal yang sepertinya kecil namun penting dalam meningkatkan produktivitas kita. Ada yang samaan? Semoga bermanfaat.



#harike4
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

TANTANGAN 10 HARI #2: Melatih Kemandirian Anak : Hari ketiga

Ternyata mengubah hal kecil agar istiqamah memang butuh keinginan kuat ya. Hari ketiga ini lemari berhasil masih dengan tatanan nya yang rapi. Namun, melihat ke salah satu sudut kamar dimana keranjang baju si kecil terletak, hmm.. sepertinya saya juga harus mulai beraksi dengan jurus yang sama untuk yang satu ini. Bedanya, untuk pakaian si kecil saya berikan sedikit sentuhan kreasi metode lipat-lipat baju ala-ala Konmari.


Sebenarnya metode rapi-rapi lemari yang digagas Mba Marie Kondo ini sudah saya coba berkali-kali sebelum masuk tantangan ini. Namun, namanya juga belum jodoh (alibi hihi..). Masih saja berantakan karena bentuk lemari yang tidak didesain sesuai untuk metode tersebut. Perlu penyesuaian desain yang menurut saya memakan biaya lagi. Kecuali diakali dengan memasang kardus (bekas sepatu misalnya) didalamnya sebagai bagian dari partisi lemari. Sayangnya, kebetulan di rumah dus sepatu sudah tak bersisa. Ada yang memang rusak, masih dipakai sebagai tempat kemasan sepatu, pun ada juga yang sudah mamak loakin :D


Lain halnya dengan tempat pakaian si kecil yang mendukung pengambilan pakaian dengan arah vertical. Bahkan untuk yang mendukung penarikan arah vertical saja, masih ada saja yang membuatnya kembali berantakan. Akar masalahnya ada pada hal yang sama yakni tentang penyimpanan yang tidak sesuai kategori maupun warna. Atau karena USER selain saya yang belum akrab dengan metode tersebut. Untuk pakaian si kecil lumayan lama status rapinya sejak hanya saya saja yang mengambil alih kendali. Susunannya pun rapi berdasarkan kelompok warna. Pun ketika ada pakaian yang sudah tidak muat segera dipisahkan untuk disimpan manakala ada yang membutuhkan (sambil merasa terharu karena tak terasa anakku mulai tumbuh besar)



#harike3
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

TANTANGAN 10 HARI #2 Melatih Kemandirian : Observasi Kecil


Sebuah sensasi merasa lebih lega melihat sesuatu tertata lebih rapi. Mungkin itu salah satu fitrah kita sebagai manusia. Begitu pula ketika melihat pakaian dalam almari tersusun rapi. Berbanding 180 derajat ketika sudah berubah wujud awut-awutan. Hihi..


Setelah melakukan observasi kecil-kecilan tanpa metode khusus ternyata ada beberapa hal yang membuat lemari pakaian menjadi tak karuan susunan lipatannya.
  1. Ukuran lipatan yang tidak sama besar
  2. Jenis kain yang mudah berurai sehingga saat ditarik ikut keluar
  3. Menarik/mencari pakaian dengan tergesa-gesa
  4. Pakaian tersusun tidak sesuai kategori. Kategori yang saya pakai biasanya dengan membagi ruang lemari untuk baju rumahan dengan baju occasional
  5. Ada anggota keluarga lain yang tak mengenal pembagian wilayah peletakan baju sehingga saat menarik dan menyimpan tidak sama seperti yang kita lakukan

Dan begitulah kira-kira hasil pengamatan kecil dari keseringan membereskan lemari pakaian. Jikalau teman-teman menemukan masalah lain yang luput dari pengamatan saya please kindly share di kolom komentar ya. Saya dengan senang hati merasa terbantu.

So, yang saya lakukan hari ini setelah sebelumnya membereskan lemari adalah sorting pakaian yang baru dilipat agar tidak ada alasan lain yang memaksa saya mencari-cari dengan buru-buru. Selain itu, bersegera menyimpan dengan rapi pakaian yang baru saja dilipat dan siap disimpan ke lemari agar tidak memaksa anggota keluarga lain menyimpannya tak sesuai kategori. Bukan salah mereka sebab itu kewajiban saya sendiri jika ada yang salah menyimpan. Sebab terasa sekali semenjak menjadi Ibu, segala sesuatu harus saya kerjakan serba cepat dari yang biasanya serba santai.


#harike2
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

TANTANGAN 10 HARI Bagian #2 Melatih Kemandirian Hari Pertama


Alhamdulillah, telah selesai tantangan 10 hari pertama mengenai komunikasi produktif. Sambil terus mengasah skill komunikasi produktif, kini saya berusaha lanjut menaiki tangga tantangan berikutnya. Yups, seperti judul artikel ini tantangan berikutnya adalah melatih kemandirian anak. Sejujurnya saya merasa tantangan kali ini sungguh penuh dengan tantangan. Pasalnya, qadarullah bersamaan dengan dimulainya masa tantangan ini tetiba gawai yang selama ini menemani harus tiba masanya diperbaiki. Alhasil, keinginan saya menenangkan diri terkabul. (Hihi..) Namun, tentu ada resiko yang menyertainya. Saya kesulitan berkomunikasi dan mengakses informasi melalui internet termasuk setor tugas ini. Namun, inilah saat yang tepat menantang diri bukan?


Tantangan 10 hari kedua ini bertema melatih kemandirian anak. Namun, subjeknya tak hanya dibatasi dengan kemandirian anak mengingat para mahasiswi IIP beragam latar belakang statusnya. Seperti halnya saya yang belum memungkinkan melakukannya bersama buah hati yang masih belum genap berusia satu tahun. Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri dalam memutuskan skill kemandirian apa yang akan saya asah terhadap diri sendiri. Sampai pada akhirnya ilham itu muncul. (wkwk.. lebay ya?)


Resiko pasangan LDM yang baru memulai rumah tangga dan baru melahirkan, saya “dititipkan” kembali pada kedua orangtua. Mungkin pak suami yang khawatir saya akan kesulitan dengan peran baru sebagai seorang ibu sehingga perlu berguru langsung kepada kedua orang tua terutama ibu. Segala sesuatu di-cover oleh Mama. Pasalnya, tipikal ibu saya itu membahagiakan anak dan tidak mau anak menderita. Saya sangat amat terbantu walau saya juga sungkan karena terbiasa segalanya melakukan sendiri. Lama kelamaan hal itu menjadi zona nyaman tersendiri seakan kembali menjadi anak paling dimanja. Hehe.. apa-apa dibantu ibunda. Oleh karena itu, saya pikir ini saat yang tepat untuk bermetamorfosis kembali menjadi lebih mandiri agar tak lagi jetlag pas pak suami pulang.
Jadi, skill apa yang ingin diasah?


Satu-satunya kesempatan saya melakukan tugas ibu rumah tangga lain selain membersamai si kecil adalah pada saat si kecil tidur atau pada saat ada yang mengajaknya bermain. Sayangnya, karena terbiasa dibantu Mama, terkadang saya lupa mengerjakan ini itu. Salah satu dampak yang amat terasa adalah susunan pakaian yang berhamburan baik milik si kecil apalagi milik ibunya. Hihi.. maka saya putuskan untuk melatih skill merapikan lemari pakaian. Dimulai dari analisis akar masalah mengapa baju-baju ini tak kunjung rapi. Dan juga merapikan lemari tentunya.
Kira-kira apa saja ya yang bikin lemari selalu berantakan? Hmm.. kita sambung besok yaa..


#harike1
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandiriananak
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

Jurnal #1 Bunda Cekatan 2: Tahap Telur-telur Part 1

Jangan puas dengan kisah-kisah, Tentang apa yang telah terjadi dengan orang lain.  Sibak mitos dirimu sendiri. Kenali dirimu, alami sendiri,...