Alhamdulillahirabbil 'aalamiin. Tantangan pertama 10 hari mengenai Komunikasi Produktif telah selesai di jalani. Ada rasa terpukau menyertai materi-materi yang didapat. Belum lagi membaca satu per satu cerita tantangan yang dialami oleh teman-teman seperjuangan. Karena ternyata seperti biasa saya agak kurang teliti membaca intruksi tentang apresiasi. Yang seharusnya saya hanya membaca cerita tantangan teman-tema satu Peer Group, saya malah membaca hampir seluruh anggota kelas. Hehe.. Tapi, tentu segalanya bukan tanpa alasan. Saya mendapat banyak sekali cerita sekaligus inspirasi menarik dari apa yang dituliskan teman-teman.
Namun tentunya, ada satu hal yang membuat saya lebih bahagia adalah ternyata perubahan yang sedikit namun terus menerus membuat jiwa ini merasa sedikit lebih sembuh. Hehe.. Sembuh karena pembawaan saya dalam berkomunikasi lebih tenang. Walau masih sempat beberapa kali terbawa emosi, namun setidaknya tidak sesering dulu. Tidak sesensitif dulu. Sekarang komunikasi lebih menekankan pada problem solving bukan saling menang. Masyaa Allah, semoga ini awal yang baik untuk senantiasa istiqomah berubah menjadi lebih baik dan bahagia, sehingga nilai nilai positif nya bisa meluas dan menyebar kepada orang-orang di sekitar. Bukankah emosi itu menular?
Meski pada awalnya tak mudah untuk berubah dan membiasakan konsisten melakukan dan menuliskan cerita tantangan setiap harinya. Bahkan hingga dua kali mengalami rapel tugas menulis. Tapi semua itu membuat saya tertantang juga untuk mengasah GRIT dan Manajemen Waktu. Tak sabar untuk mendapat pengalaman perubahan lebih baik lagi. Bismillah.
Kamu sudah sampai mana? Yuk, mulai. Karena memulai itu menitikberatkan pada kata saat ini, jika besok, nanti dan seterusnya namanya menunda.
#aliranrasa
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Berbagi pelajaran, pengalaman, serta hikmah dari berbagai rasa kehidupan
Rabu, 17 April 2019
Minggu, 07 April 2019
Hari ke-10 Tantangan #Bunsay Komunikasi Produktif Part 10: Ganti Kata "Tidak Bisa" menjadi "Bisa"
Pagi-pagi keponakan ku yang tinggal tak jauh dari rumah Ibu sudah datang dengan keadaan rapi. Masih terlihat jejak bedak khas anak-anak yang bak foundation tanpa beauty blender. Seperti kebanyakan Emak-Emak di pagi hari pasti disibukan dengan pekerjaan di ranah domestik. Begitupun dengan aku yang masih sibuk mengurus si kecil dan jemuran. Hehe..
Sebentar sambil menunggu air hangat untuk si kecil mandi, keponakan ku mengajak menonton kartun di TV. Asyik, seperti biasanya hingga waktunya si kecil mandi. Setelah selesai mandi, ku titip si kecil pada Ibu agar aku bisa menjemur cucian selagi matahari muncul dan cuaca cerah. Kebetulan anakku sedang senang-senangnya mengejar-ngejar kucing. Karenanya, Ibu mengajaknya bermain di luar karena sang kucing kukurilingan terus di rumah kemudian keluar kemudian masuk lagi.
Tinggalah kaka, ponakan ku tadi sendiri di depan layar kaca. Sedang ribet-ribetnya mengurus jemuran, ada pula pedagang ikan yang datang. Pergilah sang Ibu bertawar harga dengan sang pedagang. Sedang aku selesai menjemur bergegas menggendong si kecil dan lalu menyiapkan makanan untuknya karena sudah menjelang waktunya si kecil makan. Nah ponakan ku ini ikut nimbrung minta makan. Lapar katanya. Minta dibawakan minum juga. Karena tanganku agak kerepotan, ku bilang saja, "Ka, kaka bisa ambil minum nya sendiri? Ambil sendiri bisa ya? Ini makanannya sudah Ateu ambilkan"
Voila. Berhasil.. Berhasil.. Hore!! Biasanya sang kakak tidak mau diarahkan untuk mengerjakan ini itu sendiri. Ada saja alasannya. Ternyata teknik mengganti kata "tidak bisa" dengan "bisa" manjur juga. Yuk, cobain deh!
#harike10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Sebentar sambil menunggu air hangat untuk si kecil mandi, keponakan ku mengajak menonton kartun di TV. Asyik, seperti biasanya hingga waktunya si kecil mandi. Setelah selesai mandi, ku titip si kecil pada Ibu agar aku bisa menjemur cucian selagi matahari muncul dan cuaca cerah. Kebetulan anakku sedang senang-senangnya mengejar-ngejar kucing. Karenanya, Ibu mengajaknya bermain di luar karena sang kucing kukurilingan terus di rumah kemudian keluar kemudian masuk lagi.
Tinggalah kaka, ponakan ku tadi sendiri di depan layar kaca. Sedang ribet-ribetnya mengurus jemuran, ada pula pedagang ikan yang datang. Pergilah sang Ibu bertawar harga dengan sang pedagang. Sedang aku selesai menjemur bergegas menggendong si kecil dan lalu menyiapkan makanan untuknya karena sudah menjelang waktunya si kecil makan. Nah ponakan ku ini ikut nimbrung minta makan. Lapar katanya. Minta dibawakan minum juga. Karena tanganku agak kerepotan, ku bilang saja, "Ka, kaka bisa ambil minum nya sendiri? Ambil sendiri bisa ya? Ini makanannya sudah Ateu ambilkan"
Voila. Berhasil.. Berhasil.. Hore!! Biasanya sang kakak tidak mau diarahkan untuk mengerjakan ini itu sendiri. Ada saja alasannya. Ternyata teknik mengganti kata "tidak bisa" dengan "bisa" manjur juga. Yuk, cobain deh!
#harike10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Sabtu, 06 April 2019
Hari ke-9 Tantangan 10 Hari #Bunsay Komunikasi Produktif Part 9: Missed Communication
Sepulang dari perjalanan kemarin, saya merasa banyak sekali terjadi missed communication. Pertama, pada saat Ibu meminta tolong mengambilkan kain jarik untuk menggendong cucunya. Kebetulan koleksi Ibu sedari melahirkan dulu lumayan banyak dan klasik. "Teh, jangan lupa bawakan kain jarik. Ambil yang warna merah aja biar panjang." begitu pintanya. Kemudian saya bergegas ke kamar menuju lemari baju beliau. Tatapanku langsung tertuju memindai satu per satu rentetan kain jarik yang terlipat rapi di lemari bagian atas. Tak lama, dahiku mengernyit. "Ma, ga ada satu pun yang warna merah. Yang mana sih, Ma?" teriakku. Kemudian Mama menghampiri sambil mencubit kain jarik agar tercabut keluar. "Ini ada." Jawabnya sambil terheran sambil memegang kain jarik warna kecokelatan. "Ini cokelat mah, bukan merah." tukasku dengan nada datar.
Lain lagi ketika pagi harinya sebelum acara doa bersama. Aku sedang sibuk memperhatikan ikan-ikan beriakan di kolam. Sedangkan yang lain sedang asik berbincang. Terdengar kata dhuhur dari obrolan mereka. Aku mengira mereka sedang mempertanyakan tentang waktu dhuhur, sudah masuk apa belum. Aku asal saja menyahut, "Belum, belum masuk dhuhur." Semua melongo kemudian tertawa hingga akhirnya aku sadar mereka sedang membicarakan rencana waktu doa bersama yang akan dilaksanakan sehabis dhuhur.
Belum berhenti sampai disitu, ketika dalam perjalanan menuju rumah, kami melewati sebuah lapangan. "Wah bagus juga lapang futsalnya." celetukku. "Mana lapang futsal, ini lapangan bola.", balas Mama. "Futsal kan main bola juga, Ma." jawabku. Kemudian berlanjut dengan saling membela diri. Hehe..
Ya, ternyata memang pengetahuan, pengalaman dan latar belakang atau kita lebih mengenalnya dengan FoR dan FoE mempengaruhi bahasa dan maksud dalam berkomunikasi sehingga tak jarang menjadi penyebab adanya missed communication.
#harike9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Lain lagi ketika pagi harinya sebelum acara doa bersama. Aku sedang sibuk memperhatikan ikan-ikan beriakan di kolam. Sedangkan yang lain sedang asik berbincang. Terdengar kata dhuhur dari obrolan mereka. Aku mengira mereka sedang mempertanyakan tentang waktu dhuhur, sudah masuk apa belum. Aku asal saja menyahut, "Belum, belum masuk dhuhur." Semua melongo kemudian tertawa hingga akhirnya aku sadar mereka sedang membicarakan rencana waktu doa bersama yang akan dilaksanakan sehabis dhuhur.
Belum berhenti sampai disitu, ketika dalam perjalanan menuju rumah, kami melewati sebuah lapangan. "Wah bagus juga lapang futsalnya." celetukku. "Mana lapang futsal, ini lapangan bola.", balas Mama. "Futsal kan main bola juga, Ma." jawabku. Kemudian berlanjut dengan saling membela diri. Hehe..
Ya, ternyata memang pengetahuan, pengalaman dan latar belakang atau kita lebih mengenalnya dengan FoR dan FoE mempengaruhi bahasa dan maksud dalam berkomunikasi sehingga tak jarang menjadi penyebab adanya missed communication.
#harike9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Hari ke-8 Tantangan 10 Hari #Bunsay Komunikasi Produktif part 8: Anak-anak oh Anak-anak
Yap, masih bertemakan komunikasi. Kalo kemarin kemarin lebih banyak membahas tentang komunikasi dengan sesama orang dewasa. Kini yang ingin saya bagikan adalah cerita tentang berkomunikasi dengan anak-anak. Entah kenapa begitu menyenangkan jikalau saya bisa berinteraksi dengan anak-anak. Namun, pasti ada saatnya interaksi tersebut menagih kesabaran. Hehe..
Ya, namanya juga anak-anak. Kita yang harus kreatif menyesuaikan diri.
Sore itu misalnya, sebelum pamit pulang dari acara doa bersama keluarga, kami berencana makan bakso dulu yang letaknya lumayan dekat dengan rumah saudara kami. Nah, adalah adik kecil sedang ngambek. Sebut saja dia hmm... Kaka muda. Dalam benakku, inilah saat yang tepat untuk praktik teori kelas bunsay tentang komunikasi produktif bersama anak-anak. Kaka muda tersebut enggan naik mobil meski yang lain sudah masuk dan siap berangkat. Kebetulan saya duduk dekat dengan pintu dan posisi adik tersebut sedang berdiri. Yap.. Saya langsung turun menghampiri sang adik. Bersejajar dengannya, lalu bertanya, "Kaka, mau duduk di depan dengan Mama atau di belakang sama adik bayi?" Beliau, langsung menghampiri dan duduk bersama mamanya. Lalu, kami pun bergegas ke tempat makan bakso dan semua riang kembali. Masyaa Allah.
#harike8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Ya, namanya juga anak-anak. Kita yang harus kreatif menyesuaikan diri.
Sore itu misalnya, sebelum pamit pulang dari acara doa bersama keluarga, kami berencana makan bakso dulu yang letaknya lumayan dekat dengan rumah saudara kami. Nah, adalah adik kecil sedang ngambek. Sebut saja dia hmm... Kaka muda. Dalam benakku, inilah saat yang tepat untuk praktik teori kelas bunsay tentang komunikasi produktif bersama anak-anak. Kaka muda tersebut enggan naik mobil meski yang lain sudah masuk dan siap berangkat. Kebetulan saya duduk dekat dengan pintu dan posisi adik tersebut sedang berdiri. Yap.. Saya langsung turun menghampiri sang adik. Bersejajar dengannya, lalu bertanya, "Kaka, mau duduk di depan dengan Mama atau di belakang sama adik bayi?" Beliau, langsung menghampiri dan duduk bersama mamanya. Lalu, kami pun bergegas ke tempat makan bakso dan semua riang kembali. Masyaa Allah.
#harike8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Kamis, 04 April 2019
Hari ke-7 Tantangan Komunikasi Produktif part 7: Don't Give Up!
Apa kabar teman-teman? Apa sudah ada lonjakan perubahan dari kebiasaan komunikasi sehari-hari setelah aplikasi komunikasi produktif?
Jurnal komunikasi ku hari ini diisi masih dengan berusaha meningkatkan skill clear and clarify. Mengapa? Karena aku masih tersandung dalam hal tersebut. Terulang lagi seperti hari ini. Karena kebetulan kami sedang berkunjung silaturahmi ke rumah saudara untuk doa bersama, terkadang aku dan ibuku berkoordinasi dengan bisik-bisik atau isyarat. Karena mataku dianugerahi miopi, akhirnya kode-kode mirip morse itu tak terbaca dengan baik. Kemudian aku yang menyerah sehingga Ibu menggantinya dengan cara lain agar info tetap tersampaikan. Wah, jurus "I'm responsible to my communication" nya mama oke juga. Mungkin karena pengalaman hidup beliau yang sudah cukup lama. Dan kurasa jika IIP ada sejak dulu, yakin pasti beliau lulus dengan hasil yang jauh lebih baik dari aku.
Dan kebetulan hari ini juga waktunya kembali ke rumah. Selain clear dan clarify yang harus dilatih, ternyata Kaidah 7 : 38 : 55 masih kurang aku biasakan. Baru sampai 38% yang menunjukan hasil. Seperti sesampainya tadi di rumah. Karena hujan, ayah dengan gentle membantu memayungi Ibu, aku, dan si kecil. Ketika sampai rumah, aku meminta tolong agar barang bawaan sekalian dibawa. Namun, mungkin beliau lupa atau tak sadar aku menyampaikan hal itu. Hingga akhirnya beliau tidak membawa barangnya.
Hmm.. Ada yang kisahnya mirip-mirip!?
#harike7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Jurnal komunikasi ku hari ini diisi masih dengan berusaha meningkatkan skill clear and clarify. Mengapa? Karena aku masih tersandung dalam hal tersebut. Terulang lagi seperti hari ini. Karena kebetulan kami sedang berkunjung silaturahmi ke rumah saudara untuk doa bersama, terkadang aku dan ibuku berkoordinasi dengan bisik-bisik atau isyarat. Karena mataku dianugerahi miopi, akhirnya kode-kode mirip morse itu tak terbaca dengan baik. Kemudian aku yang menyerah sehingga Ibu menggantinya dengan cara lain agar info tetap tersampaikan. Wah, jurus "I'm responsible to my communication" nya mama oke juga. Mungkin karena pengalaman hidup beliau yang sudah cukup lama. Dan kurasa jika IIP ada sejak dulu, yakin pasti beliau lulus dengan hasil yang jauh lebih baik dari aku.
Dan kebetulan hari ini juga waktunya kembali ke rumah. Selain clear dan clarify yang harus dilatih, ternyata Kaidah 7 : 38 : 55 masih kurang aku biasakan. Baru sampai 38% yang menunjukan hasil. Seperti sesampainya tadi di rumah. Karena hujan, ayah dengan gentle membantu memayungi Ibu, aku, dan si kecil. Ketika sampai rumah, aku meminta tolong agar barang bawaan sekalian dibawa. Namun, mungkin beliau lupa atau tak sadar aku menyampaikan hal itu. Hingga akhirnya beliau tidak membawa barangnya.
Hmm.. Ada yang kisahnya mirip-mirip!?
#harike7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Rabu, 03 April 2019
Hari ke-6 Tantangan 10 Hari #Bunsay Komunikasi Produktif part 6 : Re-Check and Try Again
Kisah komunikasi hari ini rasanya campur aduk. Diawali dengan mood booster pagi karena pikiran masih jernih sehingga komunikasi berjalan tanpa hambatan. Tanpa emosi, diskusi berlangsung lancar jaya. Sejak semalam mama risau, ingin datang acara tahlilan keluarga namun serba bingung. Entah apa yang dibingungkan. Sampai kita pada diskusi. Semua mendapat solusinya.
Namun, semakin siang semakin berkurang konsentrasi ku. Seperti tadi ketika aku bekerja sama menyuapi si kecil. Karena terkadang kami bergantian untuk shalat. Ketika itu, Ibu memintaku memberikan air untuk si kecil. "Apa buburnya terlalu kental?" pikirku. Kemudian ku tambahkan air pada bubur MPASI-nya. Ibuku terheran. "Lho bukannya tadi mama minta ambilkan air? " tanyanya. "Ini sudah ditambah air, Ma.. " jawabku. "Maksudnya, air untuk minum." Aku hanya menyeringai.
Lanjut lebih malam lagi. Family Forum dengan Suami dimulai. Topik hari ini mengenai keberangkatan kami menyusulnya ke Jepang yang menimbulkan pro-kontra diantara keluarga. Terutama nenek dan kakek si kecil. Mereka mengusulkan agar si kecil tetap di Indonesia, tak perlu berangkat menyusul sang ayah. Sehingga nantinya 6 bulan sekali tinggal bergantian di nenek kakeknya. Sayangnya, informasi yang ditangkap oleh sinaps-nya (asiik.. Bahasa IPA keluar lagi) adalah beliau yang pulang ke Indonesia 6 bulan sekali.
Hmm.. Baiklah, mari kita analisis kembali apa yang membuat komunikasi ini kurang produktif.
#harike6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Namun, semakin siang semakin berkurang konsentrasi ku. Seperti tadi ketika aku bekerja sama menyuapi si kecil. Karena terkadang kami bergantian untuk shalat. Ketika itu, Ibu memintaku memberikan air untuk si kecil. "Apa buburnya terlalu kental?" pikirku. Kemudian ku tambahkan air pada bubur MPASI-nya. Ibuku terheran. "Lho bukannya tadi mama minta ambilkan air? " tanyanya. "Ini sudah ditambah air, Ma.. " jawabku. "Maksudnya, air untuk minum." Aku hanya menyeringai.
Lanjut lebih malam lagi. Family Forum dengan Suami dimulai. Topik hari ini mengenai keberangkatan kami menyusulnya ke Jepang yang menimbulkan pro-kontra diantara keluarga. Terutama nenek dan kakek si kecil. Mereka mengusulkan agar si kecil tetap di Indonesia, tak perlu berangkat menyusul sang ayah. Sehingga nantinya 6 bulan sekali tinggal bergantian di nenek kakeknya. Sayangnya, informasi yang ditangkap oleh sinaps-nya (asiik.. Bahasa IPA keluar lagi) adalah beliau yang pulang ke Indonesia 6 bulan sekali.
Hmm.. Baiklah, mari kita analisis kembali apa yang membuat komunikasi ini kurang produktif.
- Clear and Clarify ❎
- Choose the right time ✅
- Kaidah 7 : 38 : 55 ❎
- Intense Eye Contact❎
- I'm Responsible to My Communication✅
#harike6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Selasa, 02 April 2019
Hari ke-5 Tantangan 10 Hari #Bunsay Komunikasi Produktif Part 5: I'm Responsible for My Communication
Hari ini hampir saja aku menyerah. Ku kira jalan tantangan komunikasi ini telah dan akan kulalui dengan mulus. Ternyata hari ini kemudian menyapa menyadarkanku. Aku masih tersulut emosi jika berbicara berkaitan dengan penyimpanan barang-barang yang tak sesuai tempatnya hari ini. Padahal hal sepele, tapi ternyata emosiku masih labil. Belum lagi, ketika tadi ku ajak si kecil nongkrong di teras untuk menghirup udara segar, aku tak sadar ada yang menyapa kami, sehingga beliau menggerutu karena sapaannya tak dapat jawaban. Ya, ternyata berhusnudhon perlu bukan? Karena sapaan beliau tak saya sadari seketika. Hanya setelah beliau menggerutu, baru kemudian saya sadar sapaannya ditujukan pada kami. Clear and Clarify-nya harus lebih di latih. Dan jika aku diperbolehkan membela diri, bukannya berarti volume dan gesture sang penanya juga mungkin tak terdengar jelas dan terlihat bertanya pada kami?
Tak hanya sampai disana tantangannya. Baru saja, saya dan Ibu sedang membicarakan tentang berhaji karena pada saat Video Call dengan sang suami, beliau sampaikan bahwa ada beberapa mahasiswa yang kemudian mendaftar ibadah haji disana karena kuotanya masih kosong. Disambung dengan obrolan dengan Ibu, berbeda pendapat tentang kategori mampu berhaji dan mengenai kuota haji di Jepang yang masih bisa diisi, tidak perlu mengantri bertahun-tahun seperti sekarang. Entah akar masalahnya ada padaku yang kurang jelas menyampaikan atau bagaimana. Tapi, pada akhirnya beliau mengerti juga apa yang ingin saya sampaikan. Meski harus sampai tiga kali Clear and Clarify. Baiklah, perbaiki terus, perbaiki lagi dan lagi. Pengalaman kamu sampai sejauh ini bagaimana?
Aha..!?! Prinsipnya I'm responsible to my communication ya kan? Apapun yang kamu sampaikan, jangan sampai menyalahkan sang pendengar karena mereka bukan variabel kontrol yang bisa kamu kendalikan. Variabel yang bisa kamu kendalikan ya kita sendiri mengubah cara yang lebih efektif menyampaikan informasinya. Well, mari kita terus mencoba. Kamu juga kan?
#harike5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Tak hanya sampai disana tantangannya. Baru saja, saya dan Ibu sedang membicarakan tentang berhaji karena pada saat Video Call dengan sang suami, beliau sampaikan bahwa ada beberapa mahasiswa yang kemudian mendaftar ibadah haji disana karena kuotanya masih kosong. Disambung dengan obrolan dengan Ibu, berbeda pendapat tentang kategori mampu berhaji dan mengenai kuota haji di Jepang yang masih bisa diisi, tidak perlu mengantri bertahun-tahun seperti sekarang. Entah akar masalahnya ada padaku yang kurang jelas menyampaikan atau bagaimana. Tapi, pada akhirnya beliau mengerti juga apa yang ingin saya sampaikan. Meski harus sampai tiga kali Clear and Clarify. Baiklah, perbaiki terus, perbaiki lagi dan lagi. Pengalaman kamu sampai sejauh ini bagaimana?
Aha..!?! Prinsipnya I'm responsible to my communication ya kan? Apapun yang kamu sampaikan, jangan sampai menyalahkan sang pendengar karena mereka bukan variabel kontrol yang bisa kamu kendalikan. Variabel yang bisa kamu kendalikan ya kita sendiri mengubah cara yang lebih efektif menyampaikan informasinya. Well, mari kita terus mencoba. Kamu juga kan?
#harike5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Senin, 01 April 2019
Hari ke-4 Tantangan 10 Hari #Bunsay Komunikasi Produktif Part 4: Intense Eye Contact
Hidup dengan berdampingan dengan gawai (gadget) memang memiliki dua sisi mata uang. Satu sisi bermanfaat menjangkau komunikasi dan informasi jarak jauh. Namun disisi lain, menjauhkan kita dari jangkauan yang dekat. Pasti teman-teman semua juga pernah merasakan bertemu dengan orang yang kita ajak bicara namun pandangan tetap menatap layar gawai. Entah aku saja, tapi itu bagiku menganggu. Walaupun aku tak mengelak bahwa akupun pernah bahkan mungkin sering melakukan hal seperti itu.
Mungkin jika ada pilihan hidup tanpa gawai aku termasuk yang akan berdiri didalam barisannya. Akan tetapi itu hal yang musykil, sulit untuk dilakukan. Kecuali semua orang menyepakati tak menggunakan gawai juga. Hal yang cukup bisa dibilang mustahil. Mengingat aku juga ditakdirkan menjalani LDM, gawai juga terasa sangat membantu. Tanpa harus menghilangkan peran gawai tersebut, hanya memerlukan kepintaran kita mengelola pemakaiannya secara bijaksana. Ini sekaligus pengingat bagiku sendiri sih.. Hihi..
Aku tergelitik menuliskan hal ini karena merasa kecewa pada diri sendiri yang juga mungkin melakukan hal yang sama ketika melihat para orang tua tidak lebih menarik dari gawai itu sendiri. Seperti yang kulihat saat berkunjung ke sanak saudara akhir pekan kemarin. Saat itu para orang tua sedang sibuk beres-beres pasca pengajian syukuran keberangkatan suami ke negeri sakura. Mereka hilir mudik mencari dan menanyakan ini itu. Sang anak menjawab singkat dengan menatap layar gawai, bermain game. Padahal yang ditanyakan orang tua tersebut berkaitan dengan keperluan anaknya.
Maka aku putuskan berubah mulai dari diri sendiri. Dengan Intense Eye Contact misalnya. Kini ketika ada yang mengajak ku berbicara, ku simpan gawaiku. Memberi syarat ketika mau menggunakan gawai. Seperti menggunakan gawai ketika anak tidur dan sedang tidak ada yang mengajak berbicara.
Intense eye contact sendiri sangat membantu ketika menghadapi anak yang super aktif. Ada anak tetangga yang sekalinya main di rumah, bikin tegangan emosi makin naik. Sekali waktu sehabis memandikan si kecil, dia ingin ikut mandi dan main air. Hampir tak bisa di cegah. Ibunya sudah lama berkoar, tak dihiraukan sama sekali. Begitupun ibuku, diabaikannya. Lalu kemudian ku dekati sambil ku beri senyum, menekuk lutut bersejajar dengannya, ku pegang pundaknya lembut sambil ku tatap matanya. Lalu ku sampaikan, "De, dede nanti mandinya ya. Setelah ini dibereskan lebih dulu." Tanpa teriak, tanpa emosi. Alhamdulillaah.
Aku termasuk orang yang kurang fokus tanpa eye contact. Nah, buat menyiasatinya buat jadwal online dan hari atau durasi waktu tanpa gawai, semisal Gadget Free of Sunday miliknya Institut Ibu Profesional. So, silahkan dicoba ya 😉
#harike4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Mungkin jika ada pilihan hidup tanpa gawai aku termasuk yang akan berdiri didalam barisannya. Akan tetapi itu hal yang musykil, sulit untuk dilakukan. Kecuali semua orang menyepakati tak menggunakan gawai juga. Hal yang cukup bisa dibilang mustahil. Mengingat aku juga ditakdirkan menjalani LDM, gawai juga terasa sangat membantu. Tanpa harus menghilangkan peran gawai tersebut, hanya memerlukan kepintaran kita mengelola pemakaiannya secara bijaksana. Ini sekaligus pengingat bagiku sendiri sih.. Hihi..
Aku tergelitik menuliskan hal ini karena merasa kecewa pada diri sendiri yang juga mungkin melakukan hal yang sama ketika melihat para orang tua tidak lebih menarik dari gawai itu sendiri. Seperti yang kulihat saat berkunjung ke sanak saudara akhir pekan kemarin. Saat itu para orang tua sedang sibuk beres-beres pasca pengajian syukuran keberangkatan suami ke negeri sakura. Mereka hilir mudik mencari dan menanyakan ini itu. Sang anak menjawab singkat dengan menatap layar gawai, bermain game. Padahal yang ditanyakan orang tua tersebut berkaitan dengan keperluan anaknya.
Maka aku putuskan berubah mulai dari diri sendiri. Dengan Intense Eye Contact misalnya. Kini ketika ada yang mengajak ku berbicara, ku simpan gawaiku. Memberi syarat ketika mau menggunakan gawai. Seperti menggunakan gawai ketika anak tidur dan sedang tidak ada yang mengajak berbicara.
Intense eye contact sendiri sangat membantu ketika menghadapi anak yang super aktif. Ada anak tetangga yang sekalinya main di rumah, bikin tegangan emosi makin naik. Sekali waktu sehabis memandikan si kecil, dia ingin ikut mandi dan main air. Hampir tak bisa di cegah. Ibunya sudah lama berkoar, tak dihiraukan sama sekali. Begitupun ibuku, diabaikannya. Lalu kemudian ku dekati sambil ku beri senyum, menekuk lutut bersejajar dengannya, ku pegang pundaknya lembut sambil ku tatap matanya. Lalu ku sampaikan, "De, dede nanti mandinya ya. Setelah ini dibereskan lebih dulu." Tanpa teriak, tanpa emosi. Alhamdulillaah.
Aku termasuk orang yang kurang fokus tanpa eye contact. Nah, buat menyiasatinya buat jadwal online dan hari atau durasi waktu tanpa gawai, semisal Gadget Free of Sunday miliknya Institut Ibu Profesional. So, silahkan dicoba ya 😉
#harike4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Langganan:
Komentar (Atom)
Jurnal #1 Bunda Cekatan 2: Tahap Telur-telur Part 1
Jangan puas dengan kisah-kisah, Tentang apa yang telah terjadi dengan orang lain. Sibak mitos dirimu sendiri. Kenali dirimu, alami sendiri,...
-
Malam ini belajarnya Om agak drama, setelah ketahuan PR Berharga Matematika nya tidak lantas dinilai oleh sang guru. Usut punya usut, ternya...
-
Hari ini hari pertama bersama ayah di kampung. Cuaca disini bertolak belakang 180° dengan cuaca di Bogor. Disini suhu udara bisa mencapai 19...
-
Hari ini entah mengapa terasa agak melelahkan. Hingga siang hari ini sambil mengasuh, saya rebahan sebentar. Ternyata tidak sengaja saya te...