Senin, 01 April 2019

Hari ke-4 Tantangan 10 Hari #Bunsay Komunikasi Produktif Part 4: Intense Eye Contact

Hidup dengan berdampingan dengan gawai (gadget) memang memiliki dua sisi mata uang. Satu sisi bermanfaat menjangkau komunikasi dan informasi jarak jauh. Namun disisi lain, menjauhkan kita dari jangkauan yang dekat. Pasti teman-teman semua juga pernah merasakan bertemu dengan orang yang kita ajak bicara namun pandangan tetap menatap layar gawai. Entah aku saja, tapi itu bagiku menganggu. Walaupun aku tak mengelak bahwa akupun pernah bahkan mungkin sering melakukan hal seperti itu.

Mungkin jika ada pilihan hidup tanpa gawai aku termasuk yang akan berdiri didalam barisannya. Akan tetapi itu hal yang musykil, sulit untuk dilakukan. Kecuali semua orang menyepakati tak menggunakan gawai juga. Hal yang cukup bisa dibilang mustahil. Mengingat aku juga ditakdirkan menjalani LDM, gawai juga terasa sangat membantu. Tanpa harus menghilangkan peran gawai tersebut, hanya memerlukan kepintaran kita mengelola pemakaiannya secara bijaksana. Ini sekaligus pengingat bagiku sendiri sih.. Hihi..

Aku tergelitik menuliskan hal ini karena merasa kecewa pada diri sendiri yang juga mungkin melakukan hal yang sama ketika melihat para orang tua tidak lebih menarik dari gawai itu sendiri. Seperti yang kulihat saat berkunjung ke sanak saudara akhir pekan kemarin. Saat itu para orang tua sedang sibuk beres-beres pasca pengajian syukuran keberangkatan suami ke negeri sakura. Mereka hilir mudik mencari dan menanyakan ini itu. Sang anak menjawab singkat dengan menatap layar gawai, bermain game. Padahal yang ditanyakan orang tua tersebut berkaitan dengan keperluan anaknya.

Maka aku putuskan berubah mulai dari diri sendiri. Dengan Intense Eye Contact misalnya. Kini ketika ada yang mengajak ku berbicara, ku simpan gawaiku. Memberi syarat ketika mau menggunakan gawai. Seperti menggunakan gawai ketika anak tidur dan sedang tidak ada yang mengajak berbicara.

Intense eye contact sendiri sangat membantu ketika menghadapi anak yang super aktif. Ada anak tetangga yang sekalinya main di rumah, bikin tegangan emosi makin naik. Sekali waktu sehabis memandikan si kecil, dia ingin ikut mandi dan main air. Hampir tak bisa di cegah. Ibunya sudah lama berkoar, tak dihiraukan sama sekali. Begitupun ibuku, diabaikannya. Lalu kemudian ku dekati sambil ku beri senyum, menekuk lutut bersejajar dengannya, ku pegang pundaknya lembut sambil ku tatap matanya. Lalu ku sampaikan, "De, dede nanti mandinya ya. Setelah ini dibereskan lebih dulu." Tanpa teriak, tanpa emosi. Alhamdulillaah.

Aku termasuk orang yang kurang fokus tanpa eye contact. Nah, buat menyiasatinya buat jadwal online dan hari atau durasi waktu tanpa gawai, semisal Gadget Free of Sunday miliknya Institut Ibu Profesional. So, silahkan dicoba ya 😉

#harike4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal #1 Bunda Cekatan 2: Tahap Telur-telur Part 1

Jangan puas dengan kisah-kisah, Tentang apa yang telah terjadi dengan orang lain.  Sibak mitos dirimu sendiri. Kenali dirimu, alami sendiri,...