Jumat, 29 Maret 2019

Hari ke-1 Tantangan 10 Hari #Bunsay Komunikasi Produktif: Komunikasi Palsu?

Pernah ga sih kita (apa aku aja? Hihi) merasa crash sama partner bicara kita? Kemudian karena malas menanggapi dan malah menyulut emosi kita lebih memilih untuk "Iya" saja? Atau bahkan sampai tahap malas buat bicara. Itu aku banget! 


Nah, beberapa hari ke depan aku mau share pengalaman tentang komunikasi produktif khususnya dengan pasangan. Ssstt.. Yang jombs gausah sedih, bisa juga kok ini dipakai biar skill komunikasi kamu lebih baik. In syaa Allah. Bicara soal rumah tangga emang ga ada abis serba serbinya. Percayalah, tak selamanya rumah tangga sesuai ekspektasi postingan-postingan romantika di media sosial. Wkwk..

Sesederhana tentang percakapan misalnya. Aku dan suami seringnya bersenda gurau. Jadi terkadang agak sulit membedakan kapan kita sedang serius dan kapan sedang bercanda. Tapi kalo lagi diskusi, salah satunya pasti pengen menang. Dan kebanyakan aku yang sering memaksakan pandanganku terhadapnya (wkwk.. Ini mungkin yang selalu dibilang A Man is always left,  because woman is always Right). 

Seperti yang terjadi malam tadi. Aku dan suami kebetulan pasangan yang jauh di mata dekat di gadget, alias LDM. Family forum kami sepakati dilakukan via Video Call sepulang beliau penelitian. Kebetulan kami sedang membahas tentang hukum halal haram makanan disana di negara yang muslimnya masih minoritas. Kemudian seperti biasa, agar aku mengerti biasanya beliau menyampaikan dengan analogi. Analogi beliau menurutku tidak sebanding, tidak apple to apple. Padahal yang ingin beliau sampaikan bukan tentang perbandingan kasus tersebut, tapi tentang tata cara kita untuk tidak terlalu banyak bertanya jika sudah jelas hukumnya. Tapi aku tetap kukuh sama pendapatku yang mempermasalahkan perbandingan yang ia berikan tidak sebanding. Sampai pada akhirnya aku jengkel sendiri dan suka baper karena pesan aku tak tersampaikan malah merasa kesel sendiri. Hal-hal sepele seperti inilah yang terkadang menjadi celah syaithan masuk di rumah-rumah tangga yang baru tumbuh. Hihi.. Dimulai dengan komunikasi yang sebenarnya komunikasi palsu. Yang kemudian bertumpuk menjadi prasangka. Kemudian menerka-nerka ini jodoh gue beneran apa bukan sih? Ko ga cocok? Wkwk

Sebenarnya bukan tentang jodoh yang harus kamu persalahkan, tapi mungkin cara kita yang masih kurang sesuai. I'm responsible for my communication result. Berarti ada yang perlu diperbaiki nih dari caraku berkomunikasi agar enggak bikin kesel sendiri. Hihi..  Dan yang paling sering menjadi akar masalahnya ya salah paham karena gagal komunikasi dari opini aku dan kamu, menjadi opini kita. Bukan hanya pas akad aja, dari aku kamu menjadi kita, tapi rumah tangga itu dari segala rupa aku menjadi kita, dan nge-blendnya itu yang bikin menantang. 




Re-define your "communication"


Sebelum mengubah cara komunikasi, dalam setiap masalah bagiku mendefinisi ulang sebuah makna pekerjaan adalah suatu hal yang penting karena bisa membantu mengingatkan kita kembali pada fitrah pekerjaan tersebut dan tentang apa tujuan akhir yang ingin dicapai dari hal tersebut. Tapi, kembali lagi ke diri masing-masing. Jika memang dirasa tidak perlu, hal ini tidak wajib dilakukan kok. 

Nah, mari kita definisi ulang apa itu komunikasi dan apa tujuan akhirnya? Bagiku komunikasi adalah penyampaian informasi dua arah hingga kedua belah pihak atau lebih bisa mengerti apa yang kita maksud dan biasanya digunakan untuk mencari problem solving. Nah, jangan-jangan selama ini kita hanya melakukan komunikasi palsu. Apa sih maksudnya komunikasi palsu? 

Komunikasi sejatinya ada agar apa yang kita maksud dapat tersampaikan dengan baik sehingga kita dengan lawan bicara sama-sama mengerti bukan sekedar merespon, agar orang lain hanya mendengar kita, atau bahkan adu jotos mempertahankan opini. 

Sayangnya, dalam percakapan seringnya yang ada kita saling kukuh dalam opini kita, bukan berusaha menemukan titik tengah nan terang. Kita harus sadar bahwa Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) tiap orang berbeda, terlebih antara laki-laki dan perempuan. Setiap orang terlahir di lingkungan dan pendidikan yang berbeda, pengalaman, juga pengetahuan yang berbeda. Makanya penerimaan dan responnya juga pasti berbeda. 


Clear and Clarify


Nah, menyambung kasus percakapanku tadi. Ternyata akar masalahnya ada di aku yang tak sepaham tentang maksud yang disampaikan oleh pak suami. Mungkin beliau dengan jelas memberikan analogi, sayangnya aku yang dengan reaktif langsung merespon. Hihi.. (emang ga boleh juga sih ya reaktif tuh) tanpa klarifikasi apa maksud yang ingin disampaikan. 

Sejak menyadari hal itu, kini ku tak baper lagi dan tak se-egois itu dalam diskusi dan menyatakan pendapat terutama sama suami hihi.. Kemudian malu sendiri kalo inget sama aku yang dulu. Sabar-sabar ya para suami kalo ngadepin istrinya yang mirip-mirip seperti itu. 

Ternyata begitulah tulang rusuk, memang bengkok dan keras. Hanya dengan kelembutan dan kesabaran nanti dia berubah lebih lurus dan kemudian malu sendiri. Hihi..

#harike1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif 
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal #1 Bunda Cekatan 2: Tahap Telur-telur Part 1

Jangan puas dengan kisah-kisah, Tentang apa yang telah terjadi dengan orang lain.  Sibak mitos dirimu sendiri. Kenali dirimu, alami sendiri,...