Minggu, 31 Maret 2019

Hari Ke-3 Tantangan 10 Hari #Bunsay : Komunikasi Produktif Part 3 - Rumus 7 : 38 : 55

Suatu waktu aku hanya bersama mama dan si kecil di rumah. Ya, seperti halnya piring di dapur, kalo berdekatan pasti berisik berantem trang-treng-trong..

Kemudian sambil main dengan anak, aku ambil makanan kecil untuk menemani. Ibuku melarang karena rasanya cukup pedas menurutnya. Kemudian aku jawab bahwa pedas sedikit ga bakal berpengaruh ke dede bayi yang ku susui sambil megang hp membaca pesan grup WA berjibun yang masuk. Beliau menjawab manyun "Anak sekarang dibilangin malah ngeyel." begitu kurang lebih. Lalu ku tatap matanya, lalu ku bilang "Iya, ini pedas." sambil tersenyum menyeringai. Hehe. Seketika air mukanya berubah, masyaa Allah itu baru menerapkan tatapan mata dan intonasi yang lembut saat berbicara.

Ternyata memang rumus 7 : 38 : 55 harus mulai dilatih agar menjadi kebiasaan yang dulu hilang kini kembali. Perubahan yang drastis bahkan baru sampai di level 38% karena mengubah intonasi.


Penasaran ga sih apa itu rumus 7 : 38 : 55?


Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%). Itulah yang dimaksud dengan rumus/kaidah 7 : 38 : 55 yang sebagaimana disampaikan pada materi komunikasi produktif di kelas Bunda Sayang. It's really happened! Selamat mencoba 😉

#harike3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

Sabtu, 30 Maret 2019

Hari ke-2 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif Part 2: Equilibrium Emosi Vs Nalar

Kalo dengar kata equilibrium, jadi inget apa ya? Hehe.. Yup, neraca kesetimbangan kimia.. Wkwk (anak IPA banget ya?!) Bukan kok, kali ini aku ga bakal membahas sesuatu yang berbau kimia. Tapi, ada hubungannya dengan chemistry.

Masih lanjutan topik seputar komunikasi. Rumus komunikasi produktif dengan pasangan atau siapapun (orang dewasa)  selanjutnya  adalah menjaga kesetimbangan antara emosi dan nalar atau logika akal kita. Tapi, bukan berarti emosi harus sama besar dengan nalar. It's big NO! Sejatinya hubungan antara emosi dengan nalar adalah berbanding terbalik. Jika emosi naik, maka kemampuan berpikir jernih kita cenderung menurun. Begitupula sebaliknya, ketika emosi kita turun maka kita cenderung bisa lebih berpikir jernih. Itulah mengapa pernah ada pepatah yang mengatakan bahwa Jangan pernah memutuskan ketika kamu sedang marah, dan jangan mudah berjanji ketika kamu bersuka hati. Well, sampai disini kita temukan variable control kita. Apa itu? Jawabannya emosi, karena emosi dapat kita kendalikan. Ternyata emosi berperan sekali dalam komunikasi. Nah, perkara emosi ini ngaruh banget sama pemilihan waktu buat bicara.

Seperti ketika keluarga kami diskusi untuk perbaikan rumah kemarin. Antara Bapak, Ibu, dan kami anak-anaknya terdapat perbedaan pendapat dalam desain pagar rumah. Bapak ingin begini, kami ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekaliiii.. Karena berseteru terus menerus pada pendapat masing-masing, dengan kondisi pagar sudah dipesan, maka kami saling tersulut emosi. Gerutuan terjadi semalaman itu. Setelah kemarin dapat materi komunikasi produktif dari kelas bunda sayang, ternyata masalahnya ada di kami yang tidak tepat memilih waktu. Kala itu, Bapak terlanjur lelah seharian membantu para pekerja. Ya jadinya, percakapan tak berujung solusi. Sampai pada akhirnya Ibu menyadarkan kami bahwa kita terbawa emosi. Setelah mereda, kami sepakat dengan rencana Bapak.

Well, let's choose the right time guys jangan ngajak mikir orang yang lagi capek. Apalagi suami atau bapak yang notabene ga biasa multitasking, dijamin malah jadi manyun. Baik kitanya maupun mereka.

#harike2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

Jumat, 29 Maret 2019

Hari ke-1 Tantangan 10 Hari #Bunsay Komunikasi Produktif: Komunikasi Palsu?

Pernah ga sih kita (apa aku aja? Hihi) merasa crash sama partner bicara kita? Kemudian karena malas menanggapi dan malah menyulut emosi kita lebih memilih untuk "Iya" saja? Atau bahkan sampai tahap malas buat bicara. Itu aku banget! 


Nah, beberapa hari ke depan aku mau share pengalaman tentang komunikasi produktif khususnya dengan pasangan. Ssstt.. Yang jombs gausah sedih, bisa juga kok ini dipakai biar skill komunikasi kamu lebih baik. In syaa Allah. Bicara soal rumah tangga emang ga ada abis serba serbinya. Percayalah, tak selamanya rumah tangga sesuai ekspektasi postingan-postingan romantika di media sosial. Wkwk..

Sesederhana tentang percakapan misalnya. Aku dan suami seringnya bersenda gurau. Jadi terkadang agak sulit membedakan kapan kita sedang serius dan kapan sedang bercanda. Tapi kalo lagi diskusi, salah satunya pasti pengen menang. Dan kebanyakan aku yang sering memaksakan pandanganku terhadapnya (wkwk.. Ini mungkin yang selalu dibilang A Man is always left,  because woman is always Right). 

Seperti yang terjadi malam tadi. Aku dan suami kebetulan pasangan yang jauh di mata dekat di gadget, alias LDM. Family forum kami sepakati dilakukan via Video Call sepulang beliau penelitian. Kebetulan kami sedang membahas tentang hukum halal haram makanan disana di negara yang muslimnya masih minoritas. Kemudian seperti biasa, agar aku mengerti biasanya beliau menyampaikan dengan analogi. Analogi beliau menurutku tidak sebanding, tidak apple to apple. Padahal yang ingin beliau sampaikan bukan tentang perbandingan kasus tersebut, tapi tentang tata cara kita untuk tidak terlalu banyak bertanya jika sudah jelas hukumnya. Tapi aku tetap kukuh sama pendapatku yang mempermasalahkan perbandingan yang ia berikan tidak sebanding. Sampai pada akhirnya aku jengkel sendiri dan suka baper karena pesan aku tak tersampaikan malah merasa kesel sendiri. Hal-hal sepele seperti inilah yang terkadang menjadi celah syaithan masuk di rumah-rumah tangga yang baru tumbuh. Hihi.. Dimulai dengan komunikasi yang sebenarnya komunikasi palsu. Yang kemudian bertumpuk menjadi prasangka. Kemudian menerka-nerka ini jodoh gue beneran apa bukan sih? Ko ga cocok? Wkwk

Sebenarnya bukan tentang jodoh yang harus kamu persalahkan, tapi mungkin cara kita yang masih kurang sesuai. I'm responsible for my communication result. Berarti ada yang perlu diperbaiki nih dari caraku berkomunikasi agar enggak bikin kesel sendiri. Hihi..  Dan yang paling sering menjadi akar masalahnya ya salah paham karena gagal komunikasi dari opini aku dan kamu, menjadi opini kita. Bukan hanya pas akad aja, dari aku kamu menjadi kita, tapi rumah tangga itu dari segala rupa aku menjadi kita, dan nge-blendnya itu yang bikin menantang. 




Re-define your "communication"


Sebelum mengubah cara komunikasi, dalam setiap masalah bagiku mendefinisi ulang sebuah makna pekerjaan adalah suatu hal yang penting karena bisa membantu mengingatkan kita kembali pada fitrah pekerjaan tersebut dan tentang apa tujuan akhir yang ingin dicapai dari hal tersebut. Tapi, kembali lagi ke diri masing-masing. Jika memang dirasa tidak perlu, hal ini tidak wajib dilakukan kok. 

Nah, mari kita definisi ulang apa itu komunikasi dan apa tujuan akhirnya? Bagiku komunikasi adalah penyampaian informasi dua arah hingga kedua belah pihak atau lebih bisa mengerti apa yang kita maksud dan biasanya digunakan untuk mencari problem solving. Nah, jangan-jangan selama ini kita hanya melakukan komunikasi palsu. Apa sih maksudnya komunikasi palsu? 

Komunikasi sejatinya ada agar apa yang kita maksud dapat tersampaikan dengan baik sehingga kita dengan lawan bicara sama-sama mengerti bukan sekedar merespon, agar orang lain hanya mendengar kita, atau bahkan adu jotos mempertahankan opini. 

Sayangnya, dalam percakapan seringnya yang ada kita saling kukuh dalam opini kita, bukan berusaha menemukan titik tengah nan terang. Kita harus sadar bahwa Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) tiap orang berbeda, terlebih antara laki-laki dan perempuan. Setiap orang terlahir di lingkungan dan pendidikan yang berbeda, pengalaman, juga pengetahuan yang berbeda. Makanya penerimaan dan responnya juga pasti berbeda. 


Clear and Clarify


Nah, menyambung kasus percakapanku tadi. Ternyata akar masalahnya ada di aku yang tak sepaham tentang maksud yang disampaikan oleh pak suami. Mungkin beliau dengan jelas memberikan analogi, sayangnya aku yang dengan reaktif langsung merespon. Hihi.. (emang ga boleh juga sih ya reaktif tuh) tanpa klarifikasi apa maksud yang ingin disampaikan. 

Sejak menyadari hal itu, kini ku tak baper lagi dan tak se-egois itu dalam diskusi dan menyatakan pendapat terutama sama suami hihi.. Kemudian malu sendiri kalo inget sama aku yang dulu. Sabar-sabar ya para suami kalo ngadepin istrinya yang mirip-mirip seperti itu. 

Ternyata begitulah tulang rusuk, memang bengkok dan keras. Hanya dengan kelembutan dan kesabaran nanti dia berubah lebih lurus dan kemudian malu sendiri. Hihi..

#harike1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif 
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional

Rabu, 13 Maret 2019

Adab Menuntut Ilmu - NHW PraBunsay #1

Maret 2019 menjadi momentum awal kembalinya jiwa menjadi mahasiswa. Kamu kuliah lagi? Jelas jawabannya iya, tapi jangan tanya kampusnya dimana, soalnya kuliah yang saya geluti saat ini semacam self development yang kelasnya diadakan secara online. Sebagian besar para ibu dan calon ibu-ibu pasti akrab mendengar Institut Ibu Profesional. 

Setelah sebelumnya menjalani Kelas Matrikulasi, kini saya memutuskan untuk mengambil langkah ke jenjang berikutnya yakni Kelas Bunda Sayang. Berita baiknya adalah, kini saya azzamkan blog ini sebagai jurnal perkuliahan selama setahun kedepan. Degdegan dan nuansanya hampir sama dengan saat menjalani awal perkuliahan di ITB dulu. Hihi. 

Sebelum membahas materi utama kelas Bunda Sayang, kelas diawali dengan materi pra-Bunsay. Seperti pada saat kelas matrikulasi lalu, materi pertama tentunya mengenai Adab Menuntut Ilmu. 

Seperti yang disampaikan di kelas bahwa adab menuntut ilmu terdiri dari 3 bagian.


  • Adab terhadap diri sendiri 
  • Adab terhadap guru 
  • Adab terhadap ilmu


Selain ketiga adab diatas, disampaikan pula Code of Conduct dan tata tertib perkuliahan. 

Salah satu adab terhadap diri sendiri adalah ikhlas dan tazkiyatun nafs yang salah satu wujudnya seperti yang diungkapkan melalui NHW berikut. 

REFLEKSI:

Alasan terkuat apa yang dimiliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?


Menyelami peran baru sebagai seorang istri dan ibu dari seorang anak tentunya tak mudah tanpa ilmu yang relevan. Peran sebagai seorang anak, seorang istri, maupun seorang ibu merupakan fitrah dan titipan peran serta amanah dari Allah SWT. Maka yang menjadi alasan utama menjalaninya adalah ibadah karena Allah. Mengapa? Agar kita tak tumbang ditengah jalan dan segala yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Menuntut ilmu di Kelas Bunda Sayang ini diniatkan menjadi upaya memantaskan diri mengemban amanah sebagai anak, istri, dan ibu dengan ikhlas dan bahagia karena Allah SWT. 

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ” ¹

Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan direncanakan di bidang tersebut?


"Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja" 
-- Imam Syafi'i --

Salah satu strategi menuntut ilmu di kelas Bunda Sayang ini adalah dengan membuat tulisan. Baik itu catatan berupa buku, infografis/mind map, maupun tulisan di blog seperti ini. Sebagaimana disinggung sebelumnya, bahwa blog ini menjadi salah satu media menuangkan tulisan atas ilmu yang didapat. Selain itu juga dengan menghimpun materi yang diberikan di kelas dalam satu folder. Kemudian membuat Ceklist kegiatan sebagai output dari materi yang diberikan. 

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,
perubahan sikap apa saja yang akan diperbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?


Jujur pada diri sendiri itu penting agar dapat membuka dan menginsfyafi kekurangan-kekurangan dalam diri selama ini. In syaa Allah sesuai adab yang telah diajarkan, semoga melalui tulisan ini menjadi pengingat agar tidak lagi menunda, agar bersungguh-sungguh, sabar, berperan aktif, istiqamah dalam mempelajari dan mempraktikannya sehari-hari. 

"Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yg bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan Alloh (dlm segala urusanmu) serta jangan sekali-kali engkau merasa lemah."
HSR Muslim no 2664, Ahmad (II/366,370) dari Abu Hurairah²





Referensi:
¹ https://almanhaj.or.id/4260-jadikanlah-akhirat-sebagai-niatmu.html

²https://www.dakwahpost.com/2017/10/bersungguh-sungguh-dalam-menuntut-ilmu-dan-rindu-mendapatkannya.html?m=1

Jurnal #1 Bunda Cekatan 2: Tahap Telur-telur Part 1

Jangan puas dengan kisah-kisah, Tentang apa yang telah terjadi dengan orang lain.  Sibak mitos dirimu sendiri. Kenali dirimu, alami sendiri,...