Hari itu Izza mendapat snack berupa urab singkong rebus. Salah satu panganan tradisional yang mungkin sudah langka di beberapa wilayah tanah sunda kini. Kemudian di pintu masuk ada seonggok urab yang mungkin tak sengaja jatuh oleh empunya. Dihadapan kami, sang induk ayam dengan anak-anaknya sedang “ngabring” kesana sini mencari makan. Padahal bisa jadi urab yang jatuh tadi adalah makanannya. Saya dan Izza asyik saja mengamati ayam-ayam tersebut. Sesekali Izza mengepalkan tangan kemudian membukanya seraya memanggil ayam-ayam tersebut. Ternyata ia meniru saya ketika memanggil ayam. Masyaa Allah bayi memang peniru ulung.
Lama-lama, sang ayam malah menjauh, masuk ke area kolam ikan yang kekeringan di bulan kemarau ini. Mengoreh dan mengoreh lagi. Tapi hasilnya nihil, karena semuanya hanya lumpur. Saya teringat pada urab yang terjatuh tadi. Kemudian saya lemparkan ke arah ayam. “Nak, selekat apapun kita menggenggam rezeki yang kita anggap untuk kita, namun jika itu adalah rezeki orang lain atau makhluk lain, ia akan tetap sampai pada pemiliknya. Begitupun sebaliknya. Sesulit apapun yang ada dibenak kita jika kita berikhtiar, Allah pasti sampaikan rezeki itu untuk kita.”
“Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). – (Q.S Hud: 6)”
#Harike7
#GameLevel8
#tantangan10hari
#CerdasFinansial
#KuliahBundaSayang
@institut.ibu.profesional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar