Rabu, 04 September 2019

Matematika Logis Hari ke-1: Aku, Kita, dan Matematika

Awalnya saat game level ini meluncur, ada pertanyaan dibenak saya, “apakah matematika sesulit itu?”, tanya saya dalam hati. Sampai jawabannya terbuka, masyaa Allah, dengan kejadian hari ini bersama keponakan saya yang baru berusia 5 tahun.

Seperti biasa, rutinitas newmom di pagi hari berkutat dengan pekerjaan domestik. Hingga si kecil bangun meminta waktunya untuk kemudian jalan pagi. Saya membiasakan jalan pagi sore bersama anak bayik ini agar tidak melulu di rumah dan ia tidak merasa bosan juga belajar bersosialisasi. Dengan jalan pagi atau sore seperti ini, ia bisa banyak belajar dengan mengeksplor alam dan lingkungan di sekitarnya

Selagi kita melihat lingkungan sekitar, seperti biasa Izza suka sekali dengan hewan-hewan yang ada ketika kita lewati. Terlihat adq bebek yang sedang asyik menyantap makanannya. “De, lihat nak! Itu ada bebek. Bebeknya sedang apa ya? Oh, sedang makan ya, Nak?! Bebeknya ada berapa ya? Yuk kita hitung sama sama. Satu.. Dua.. Masyaa Allah, bebeknya ada dua ya, Nak?!” Begitu kira kira percakapan kami ketika melihat bebek. 

Kemudian sepulangnya ke rumah, Izza bermain dengan kotak berisi beberapa mainan. Di dalamnya termasuk buku, salah satu benda kesukaan Izza. Yang ia pilih kali ini adalah buku tentang hewan peliharaan. Dia selalu tertarik ketika melihat gambar kucing, sampai bunyinya pun terkadang ia tiru. Dia menunjuk gambar kucing dalam buku itu. “Apa itu, Nak? Gambar kucing ya?! Meow?! Kucingnya sedang apa? Oh sedang mengejar kupu-kupu. Kupu-kupunya bagus ya, Nak?! Kupu-kupunya ada berapa ini? Kita hitung bareng bareng yuk! Satu.. Dua.. Tiga.. Wah, kupu-kupunya ada tiga ya?” Kemudian ia menunjuk salah satu kupu-kupu dengan warna pink. “Dede suka kupu-kupu yang itu ya, Nak?! Warna apa itu kupu-kupunya? Pink ya? Dede suka warna pink? Izza sukanya warna apa?” Begitulah dialog yang sering saya lontarkan ketika Izza tertarik pada sesuatu. Dan saya tidak menyangka bahwa itu bisa menjadi basic untuk menstimulasi matematika logis pada anak. Alhamdulillah ternyata selama ini apa yang saya sampaikan sesuai. Adalah kelegaan bagi seorang ibu ketika mengetahui apa yang ia lakukan untuk anaknya sudah sesuai dengan kaidah.

Sampai pada sore hari, keponakan saya yang akrab dipanggil Kaka datang bermain ke rumah. Kala itu Izza masih terlelap. Sampai kita pada percakapan tentang menyikat gigi. “Kaka suka menyikat gigi engga?” Tanyaku. “Suka setiap hari. Ateu yang ga suka sikat gigi.” Jawabnya meledek. Hehe. “Yey, ateu mah sikat giginya juga 2 kali sehari. Kaka berapa kali coba?” Balasku. “Ya setiap hari atuh, masa sehari 2 kali?!” Jawabnya menganggap sehari 2 kali sama dengan 2 hari sekali. Haha lucu sekali berbicara dengan anak anak itu. “Iya Ka, sehari 2 kali itu maksudnya sikat giginya 2 kali dalam satu hari. Satu kali pas pagi hari, satu lagi sebelum bobo malam hari. Gitu.” “Kayak Kaka makan dalam satu hari berapa kali? Kaka udah makan berapa kali tadi” tanyaku melanjutkan. “Sekali.” jawabnya singkat. “Pagi-pagi ga makan memang?” Tanyaku lagi. “Makan sama ayam.” Balasnya. “Jadi, Kaka udah makan berapa kali? Dua ka..lii..” Jelasku. “Kalo nanti malam makan lagi, Kaka jadinya makan 3 kali sehari. Begitu Ka.”

Saat itu, saya menyadari saya masih memakai kacamata orang dewasa terhadap anak-anak. Menganggap hal sepele seperti itu harusnya sudah mudah diketahui oleh anak anak seusia Kaka. Namun, saya keliru. Masa anak anak adalah masa eksplorasi dan masih belum mengetahui banyak hal. Belum mengerti banyak hal yang sejatinya orang dewasa sekitarnya lah yang harus bersabar membimbingnya.

#harike1
#gamelevel6
#tantangan10hari
#ilovemath
#matharoundus
#kuliahbundasayang

@institut.ibu.profesional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal #1 Bunda Cekatan 2: Tahap Telur-telur Part 1

Jangan puas dengan kisah-kisah, Tentang apa yang telah terjadi dengan orang lain.  Sibak mitos dirimu sendiri. Kenali dirimu, alami sendiri,...